A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: strpos(): Non-string needles will be interpreted as strings in the future. Use an explicit chr() call to preserve the current behavior

Filename: MX/Router.php

Line Number: 239

Backtrace:

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 239
Function: strpos

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 72
Function: set_class

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/index.php
Line: 316
Function: require_once

Ada Apa di TWNC? Begini Hasil Pantauan Harian Momentum | Harian Momentum

Ada Apa di TWNC? Begini Hasil Pantauan Harian Momentum

2398 Views
Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Harianmomentum.com--Pernah dengan nama Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Mungkin banyak masyarakat  yang belum tahu, nama apakah itu?

TWNC adalah kawasan hutan yang dikelola Yayasan Artha Graha Peduli sebagai lokasi Pelestarian Alam dan Satwa Liar. TNWC berlokasi di daerah yang sangat terpencil, masuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), di wilayah Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. 

Beberapa waktu lalu, wartawan Harianmomentum.com mendapat kesempatan untuk mengunjungi kawasan tersebut. 

Untuk mencapai lokasi TNWC, wartawan Harianmomentum.com bersama rombongan menggunakan jalur laut melalui Pelabuhan Bengkunat, yang lebih layak disebut dermaga tempat sandar perahu-perahu nelayan di Kabupaten Tanggamus dan Pesisir Barat.

Konon nama Tambling merupakan singkatan dari kata Teluk Tampang dan Tanjung Belimbing karena memang kawasan tersebut letaknya diapit oleh teluk dan tanjung tersebut.

Dari Pelabuhanan Bengkunat, perjalanan ditempuh lebih kurang tiga jam menggunakan perahu nelayan. Mendekati kawasan TNWC, terlihat bangunan menara mercusuar berdiri kokoh di tepi pantai.

Sekawanan kera ekor panjang dan beberapa ekor siamang, riuh berlompatan di pepohan lebat di tepi pantai tersebut. Tak lama setelah perahu mendarat di tepi pantai, kami langsung disuguhi pemandangan kawanan kerbau liar dan rusa yang mencari makan di padang rumput. Tak satu pun terlihat sampah plastik di kawasan tersebut.

Dari informasi petugas TWNC, kami mendapatkan data, total luas kawasan tersebut mencapai lebih kurang 48 ribu hektare. Dari luas tersebut, 14 ribu hektare merupakan kawasan cagar alam laut.

Upaya pelestarian alam dan satwa liar oleh Yayasan Artha Graha Peduli dilakukan bekerja sama dengan Balai TNBBS.

Untuk koservasi satwa liar, TNWC memiliki sejumlah sarana pendukung, antara lain rescue centre untuk rehabitlitasi Harimau Sumatera, sebelum nantinya dilepas kembali ke alam liar. 

Kebanyakan harimau yang direhabilitasi di rescue centre TWNC adalah korban konflik dengan warga.

Kucing-kucing besar berkulit motif loreng korban konflik dengan warga itu, terlebih dulung mendapatkan perawatan dari tim dokter hewan TWNC. Setelah itu, hewan-hewan buas itu akan dilatih cara berburu sebagaimana hidup di alam liar. Untuk selanjutnya kembali dilepas ke kawasan hutan TNBBS. 

"Ada beberapa harimau yang sudah kita lepaskan ke hutan. Tahun 2008, yang kita lepaskan ada dua ekor. Kemudian tahun 2010, kita kembali melepaskan dua ekor harimau bernama Buyung dan Panti yang telah menjalani masa rehabilitasi," kata Teguh Wardoyo petugas TWNC pada harianmomentum.com.

Pada tahun 2011, Panti ditemukan terluka di lokasi yang berdekatan dengan pusat rehabilitasi tersebut. Setelah diperikas oleh tim dokter TWNC, diketahui Panti dalam kondisi hamil.

"Setelah kita rawat, Panti kembali sehat dan melahirkan tiga ekor anak. Saat itu ibu negara kita, Ibu Ani Yudhoyona sempat memberikan nama untuk tiga ekor anak harimau itu. Namanya: Topan, Petir dan Bintang," tuturnya.

Lalu pada tahun 2015, TWNC melepas Panti dan anaknya Petir ke alam liar karena dianggap sudah siap. Sedangkan Topan dan Bintang pada saat itu masih menjalani masa rehabilitasi bersama harimau sumatera lainnya.

Pihak pengelola TWNC sengaja meminimalisir kunjungan ke lokasi rescue centre, agar harimau yang sedang menjalani masa rehabilitasi tidak terlalu sering berintraksi dengan manusia.

"Memang secara alami, harimau cenderung akan menghindari manusia. Kita tidak ingin harimau-harimau itu kehilangan naluri atau insting sebagai pemburu di alam liar," terangnya.

Menurut dia, TWNC terbuka bagi para peneliti. "Silakan berkunjung ke TWNC, dengan lebih dulu membuat SIMAKSI dari TNBBS dan mengikuti SOP yang berlaku," kata Teguh

Bukan saja Harimau, hampir seluruh spesies satwa endemik Pulau Sumatera ada di kawasan TWNC.  

"Hampir seluruhnya ada, yang masih belum terpantau jelas badak Sumatera, namun kita diberikan harapan dengan jejak lama badak. Sejauh ini habitat badak di kawasan TWNC, masih sangat baik. Jadi masih terdapat kemungkinan badak Sumatera ada di TWNC" terangnya.  (asn)