A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: strpos(): Non-string needles will be interpreted as strings in the future. Use an explicit chr() call to preserve the current behavior

Filename: MX/Router.php

Line Number: 239

Backtrace:

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 239
Function: strpos

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 72
Function: set_class

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/index.php
Line: 316
Function: require_once

Kritik untuk Eva | Harian Momentum

Kritik untuk Eva

894 Views
Agung DW, wartawan Harian Momentum.

MOMENTUM-- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung tampaknya sedang panik. Bingung menutupi kondisi keuangan daerah yang terus defisit.

Tapi, alih- alih menurunkan alokasi anggaran belanja, pemkot justru berencana menjual sejumlah aset. Lucu nggak?

Ya, pasti luculah. Ibarat dalam rumah tangga. Ketika hutang menumpuk, pemasukan sedikit dan keuangan sulit, apa yang harus dilakukan? Tentu menghemat pengeluaran.

Terutama pengeluaran yang tidak penting. Contoh; beli kendaraan baru disaat kendaraan lama masih layak pakai.

Renovasi rumah, padahal kondisi rumah masih baik- baik saja.

Membeli telepon genggam, sementara telepon lama masih berfungsi dengan baik. Tentu masih banyak contoh lainnya.

Kembali ke persoalan pemkot. Banyaknya hutang belanja sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, semenjak tiga tahun terakhir kepemimpinan Walikota Herman HN.

Bisa dikatakan, hutang pemkot yang saat ini totalnya mencapai ratusan miliar rupiah merupakan warisan dari rezim sebelumnya. 

Tapi, seharusnya kondisi itu tidak akan berlanjut jika rezim saat ini mengencangkan ikat pinggang. Alias berhemat. Tidak berfoya- foya. 

Artinya, setiap program pembangunan yang dilaksanakan seharusnya berbasis skala prioritas. Mengedepankan kepentingan rakyat. Bukan hanya segelintir golongan atau lembaga. 

Saya contohkan, proyek pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Diponegoro, yang saat ini sedang berlangsung.

Apa urgensinya JPO yang menguhubungkan kantor walikota dengan Masjid Al Furqon tersebut? Dampaknya hanya dirasakan para pegawai di kantor walikota.

JPO hanya sebagai akses menyeberang pegawai jika ingin melaksanakan ibadah salat di Masjid Al Furqon. Bukankah di kantor walikota juga ada masjid?

Contoh lainnya; proyek pembangunan rumah dinas Kapolda, Danrem, Kajati dan lainnya. Belum lagi proyek pembelian motor dinas bagi Lurah se-Bandarlampung. Apa pentingnya proyek itu bagi rakyat?

Intinya, kalau ingin mencegah defisit dan melunasi semua hutang- hutang pemkot terhadap pihak ketiga, kurangi belanja. Terutama belanja yang tidak penting! Bukannya jual aset! 

Ingat kata Mario Teguh, hidup sederhana tanpa utang lebih mendamaikan daripada kelihatan kaya tapi banyak hutang.

Tabikpun. (*)