A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: strpos(): Non-string needles will be interpreted as strings in the future. Use an explicit chr() call to preserve the current behavior

Filename: MX/Router.php

Line Number: 239

Backtrace:

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 239
Function: strpos

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 72
Function: set_class

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/index.php
Line: 316
Function: require_once

Sekhdam, Film Kolaborasi Sineas Muda Lampung | Harian Momentum

Sekhdam, Film Kolaborasi Sineas Muda Lampung

1798 Views
Komunitas Sineas Film sedang diskusi menggodok film 'Sekhdam" yang bakal diproduksi Movie Lab Komite Film Dewan Kesenian Lampung (Dok.Komite Film DKL)

MOMENTUM, Bandarlampung--Komite Film Dewan Kesenian Lampung (DKL) berkolaborasi dengan puluhan komunitas dan sineas muda memproduksi film bernafaskan kearifan lokal.

Ketua Komite Film DKL, Dede Safara mengatakan, kolaborasi bertajuk “Movie Lab” ini mengajak sekitar 20 komunitas dan sineas di seluruh kabupaten/kota se-Lampung.

Dede lebih lanjut mengatakan, selama ini para sineas biasanya membuat film hanya bersama kelompok atau komunitasnya masing-masing.

“Jadi belum pernah ada program kolaborasi yang menggabungkan para sineas dari berbagai komunitas untuk terlibat dalam satu produksi,” kata Dede dalam keterangan pers, Minggu (26-9-2021).

Dede menambahkan, program “Movie Lab” ini sendiri sudah berjalan dan menghasilkan sebuah skrip film fiksi berjudul “Sekhdam (The Death Whistle)” yang sarat akan muatan kearifan lokal.

“Sebelumnya, kami sudah urun rembuk dengan 20 komunitas film pada Juli 2021 lalu . Akhirnya diputuskan bahwa Movie Lab akan dilaksanakan dengan memproduksi sebuah film fiksi bertema kearifan lokal Lampung,” kata Dede.

Dari urun rembuk tersebut, kata Dede, muncul banyak ide. Mulai dari bagaimana kaum muda bertahan dari dampak pandemi yang berkepanjangan, hingga bagaimana kaum muda menyoroti perbedaan pendapat antara kaum tua dan muda dalam upaya pelestarian kearifan lokal di Lampung.

“Ide tentang Sekhadam Lampung, dimunculkan oleh Iin Zakaria sineas dari Dakocan,  dan kemudian ide itu menjadi pilihan utama untuk diproduksi dalam Program Movie Lab ini,” kata Dede yang  juga didhapuk menjadi sutradara film ini.

"Sekhdam (The Death Whistle)" karya Iin M Zakaria ini bercerita tentang seorang maestro seruling (sekhdam/serdam) khas Lampung yang kini hampir punah.

Hamdan, sang maestro diminta membuat sekhdam untuk seorang tetua adat. Namun, sekhdam itu adalah karya terakhir sang maestro karena dalam proses ritual, sang maestro ikut "menitipkan" kesedihan akibat kematian anaknya. Proses selanjutnya yakni syuting film “Sekhdam”  akan berlangsung dari 7- hingga 11 Oktober 2021 di Krui, Pesisir Barat. “Sekhdam ini memang berasal dari Kabupaten Pesisir Barat,” kata Dede.

Peran Utama “Sekhdam”

Untuk pemeran utama film “Sekhdam” ini terpilih Iswadi Pratama. Pentolan Teater Satu Lampung ini reputasinya tak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga mancanegara.

“Secara khusus, Iswadi menyediakan waktu untuk fokus terlibat dalam garapan kolaborasi ini. Ini menjadi booster tersendiri bagi kami,” kata Dede. Selain Iswadi Pratama, pemeran lainnya  yakni Aditya Panoet (B-film) dan Deddy (@travelbydeddy).

Sedangkan beberapa komunitas yang mendukung film ini adalah, Klub Nonton Lampung, Komunitas Dongeng Dakocan, B-Film, Sinela, SMK 5, SMK Pesawaran, UIN Lampung, Dharmajaya, Itera, dan lainnya.

Film “Sekhdam” diproduseri oleh Ketua Umum (DKL) Satria Bangsawan, dengan produser lapangan yakni Bagus S Pribadi (DKL) dan Iin Zakaria (Wakil Komunitas).(**)

Editor: Nurjanah/rls