A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: strpos(): Non-string needles will be interpreted as strings in the future. Use an explicit chr() call to preserve the current behavior

Filename: MX/Router.php

Line Number: 239

Backtrace:

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 239
Function: strpos

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/application/third_party/MX/Router.php
Line: 72
Function: set_class

File: /home/u199773734/domains/harianmomentum.com/public_html/app/index.php
Line: 316
Function: require_once

Masjid Pusat Peradaban Islam Bukan Tempat Radikalisme | Harian Momentum

Masjid Pusat Peradaban Islam Bukan Tempat Radikalisme

3219 Views
Otjih S, Pemerhati Sosial dan Politik di Tabanan, Bali. Alumnus Udayana, Bali. Foto: Masjid/Net

Harianmomentum--Dalam pengertian sehari-hari, Masjid merupakan bangunan tempat Sholat Umat Muslim dan tempat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, Masjid juga digunakan untuk kegiatan mengaji serta ibadah-ibadah Agama Islam lainnya.

 

Masjid merupakan tempat yang identik dengan umat Islam. Adapun pengertian Masjid berdasarkan tata bahasa berasal dari bahasa Arab yakni Sajada – Yasjudu yang berarti taat, patuh, tunduk dengan penuh hormat, tentunya kepada Allah SWT. Masjid adalah tempat umat Muslim sekaligus pelabuhan tempat bersauh dalam ketaatan kepada Allah SWT.

 

Dalam perkembangan umat Islam, Masjid memiliki peranan strategis untuk kemajuan peradaban umat Islam. Hal tersebut telah dibuktikan oleh perjalanan sejarah multifungsi peranan Masjid. Masjid bukan saja tempat sholat, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pengajian keagamaan, pendidikan dan fungsi-fungsi sosial serta ekonomi umatIslam.

 

Sejarah juga mencatat, bahwa Masjid Nabawi oleh Rasulullah difungsikan  sebagai Pusat ibadah, Pusat pendidikan dan pengajaran, Pusat penyelesaian  problematika  umat  dalam  aspek  hukum  (peradilan), Pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui Baitul Mal (ZISWAF), Pusat informasi Islam. Singkatnya, pada zaman Rasulullah, masjid dijadikan sebagai pusat peradaban Islam.

 

Tak ubahnya di Indonesia, Masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, akan tetapi sebagai pusat aktivitas sosial. Masjid dijadikan sebagai wahana umat untuk bersilaturahmi dan bermusyawarah membahas banyak hal yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Selain itu juga menjadi tempat untuk mengembangkan pengetahuan agama dan sosial kemasyarakatan.

 

Namun di masa penjajahan Belanda, fungsi masjid agak dibatasi. Masjid hanya diperkenankan menjadi tempat ibadah saja. Hal ini disebabkan oleh ketakutan kaum Belanda bahwa masjid dapat dijadikan sebagai markas untuk melawan Belanda. Masjid memang bisa menjadi tempat yang efektif untuk mengembangkan sikap anti penjajahan.

 

Melalui Dalih Jihad Fi Sabilillah, maka menggelorakan semangat melawan penjajah akan sangat efektif dilakukan di Masjid. Sebagai tempat yang suci, maka Masjid akan dapat digunakan untuk membangkitkan semangat perlawanan tersebut. Namun itu merupakan perjalanan sejarah pergerakan perjuangan rakyat Indonesia saat dijajah oleh Belanda. Sedangkan saat ini Masjid harus dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah dan juga menjadi pusat pengembangan budaya Islam. Misalnya dengan memperbanyak kegiatan yang diusung di dalam kerangka pengembangna peradaban budaya Islam.

 

Pendiri Gerakan Memakmurkan Masjid (Gemar), Achmad Subianto dalam seminar Penganugerahan Masjid Percontohan dan Peluncuran ID Nasional 2016 yang digelar Kementerian Agama, menekankan empat pegangan mengembalikan peradaban umat ke masjid yakni dengan pahami Strength, Weakness, Oportunity dan Threats (SWOT) kembalikan masjid sebagai pusat peradaban. Strength atau kekuatan, kata dia, yang dimiliki masjid untuk menjadi pusat peradaban di antaranya adalah populasi Muslim di Indonesia yang terbesar di dunia. Ada pula kehadiran kitab suci Al Qur'an yang sudah dijelaskan Allah SWT sebagai cahaya, serta banyaknya ormas-ormas Islam yang berdiri tegak.

 

Selanjutnya, harus dipahami Weakness atau kelemahan dari kondisi yang ada seperti perekonomian yang tidak dimiliki umat, dan pembinaan yang masih bergantung pada APBN/APBD. Ada pula banyaknya status hukum masjid yang masih belum jelas, kesediaan lisensi bagi khatib-khatib serta masih terbatasnya pemahaman menejerial pengurus masjid. Subianto turut mengajak umat Islam memahami oportunity atau kesempatan yang ada, seperti kehadiran Baznas yang harusnya diiringi kehadiran UPZ di masjid.

 

Selain itu, seharusnya Badan Wakaf Nasonal sudah mampu hadir di masjid-masjing, termasuk memaksimalkan potensi umat lewat banyaknya bank-bank syariah yang sudah ada. Terakhir, Subianto mengingatkan umat Islam akan adanya threats atau ancaman terhadap masjid, di antaranya legalitas masjid yang belum jelas, serta perkembangan teknologi yang kadang belum mampu ditangkap. Ada pula media-media sekuler dan aliran-aliran sesat yang berusaha memecah umat, terutama perilaku koruptif yang masih ada.

 

Namun akhir-akhir ini, beberapa kasus penyemaian paham radikalisme ada yang berawal dari Masjid diantaranya, Masjid Darul Islah yang terletak di kawasan Bumi Serpong Damai Kota Tangerang Selatan. Warga sekitar mulai merasa tidak nyaman dengan ceramah dari Ustad Abu Jibril di Masjid Darul Islah yang berisikan penyebaran ajaran yang dianggap terlalu ekstrim. Abu Jibril sendiri diketahui sebagai Ketua Majelis Mujahidin Indonesia. Atas dasar itu, warga mendesak pengurus Masjid untuk mundur.

 

Masjid sejatinya adalah tempat umat Islam untuk menjalankan ibadah. Akan tetapi fungsi masjid mulai disalahgunakan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab dan bahkan Masjid kerap dijadikan tempat persembunyian kelompok teroris. Mereka sering menyamar sebagai ustad yang melakukan dakwah keagamaan. Tidak jarang, mereka juga memilih untuk tinggal di masjid sebagai marbot alias penjaga masjid. Salah satu terduga teroris bernama Riza yang ditembak mati di Tulungagung beberapa waktu lalu bisa dijadikan contoh. Dirinya menginap di masjid Al Jihad selama tiga bulan dan menjadi guru mengaji bagi anak-anak.

 

Kedoknya tersimpan rapat selama tiga bulan sampai Densus 88 mencium tempat persembunyiannya. Contoh lain, seorang terduga teroris ditangkap Densus 88 di Makassar. Dia menyamar sebagai imam sementara di Masjid Al-Mussabbihin Kompleks Bumi Sudiang Raya. Penyamaran Farouk – terduga teroris di Makassar itu – sangat sempurna sehingga warga sekitar tidak ada yang menyangka imam masjid itu anggota kelompok radikal yang kerap melakukan aksi teror di sejumlah daerah.

 

Disamping itu, adanya informasi bahwa puluhan masjid di 16 provinsi di Indonesia dituduh mendukung kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Tuduhan dukungan terhadap ISIS termasuk menyebarkan ideologi dan merekrut militan untuk pergi ke Suriah.Media Australia, ABC.net.au, mengungkap ada 41 masjid di 16 provinsi di Indonesia yang jadi objek penelitian yang dilakukan atas nama Pemerintah Indonesia. Dari jumlah tersebut, 16 masjid di tujuh provinsi dituding tim peneliti sebagai pendukung kelompok ISIS. Tim peneliti melakukan kajiannya dengan menyusup secara diam-diam ke tempat-tempat ibadah.

Data dari Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi menyebutkan, rekaman audio berisi ajaran radikal tidak dapat diberikan kepada media, karena milik Pemerintah Indonesia. Dalam penelitiannya, mengidentifikasi tiga jenis masjid. Pertama, masjid umum yang digunakan oleh simpatisan ISIS tanpa sepengetahuan pengurus. Kedua, masjid di mana pengurusnya terkait dengan kelompok yang berafiliasi dengan ISIS, tapi jamaahnya tidak. Ketiga, masjid swasta di mana pengurus dan kongregasi keduanya mendukung kelompok ISIS.

 

Beberapa contoh kasus itu membuka mata kita bahwa fungsi masjid yang selama ini sebagai tempat ibadah telah disalahgunakan. Masjid kerap dijadikan tempat persembunyian anggota kelompok radikal.

 

Direktur Riset Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Nafi Mutohirin, mengatakan bahwa Masjid menjadi tempat aktivisme politik adalah hal biasa. Baik di Mesir, Turki, maupun Indonesia, Masjid selalu menjadi ruang pergerakan, propaganda, ideologisasi, bahkan perekrutan anggota baru kelompok politik Islam.

 

Hal yang serupa ditulis dalam buku Benih-benih Islam Radikal di Masjid: Studi Kasus Jakarta dan Solo, monograf yang diterbitkan Center for the Study of Religion and Culture, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (2010), diketahui Masjid juga menjadi medan kontestasi politik. Kekuasaan di sini bukan berarti jabatan politik atau teritori, tetapi medan dakwah, yang memperebutkan hegemoni ideologi, mazhab, dan aliran. Bahkan KH Hasyim Muzadi pada 2009 mengingatkan umat Islam agar waspada terhadap gejala ideologi transnasional.Gerakan transnasional yang dimaksud adalah gerakan seperti Ikhawanul Muslimin, Jaulah , Al-Qaeda, dan Islam Liberal. Menurutnya, ideologi semacam itu bertentangan dengan arus utama Islam Indonesia yang selama ini toleran.

 

Masyarakat muslim yang mayoritas di Indonesia perlu menyadari bahwa adanya terorisme adalah “by design”. Hillary Clinton pernah keceplosan seperti ini. Pada 2013, Hillary Clinton menonjol sebagai calon presiden Amerika Serikat. Saat itu ia mengungkapkan sesuatu yang membuka mata publik luas. CNN menyiarkannya.

 

Dunia pun tetap bisa menontonnya melalui Youtube. "Jangan lupa," ujar Hillary, "terorisme yang kini kita perangi, kita ikut membiayainya 20 tahun lalu. Kita rekrut mujahidin, kita biarkan mereka datang dari Arab Saudi dan negara lainnya untuk mengimpor paham Wahabi. Kita gunakan mereka untuk mengalahkan Uni Soviet."

 

Berkaca dari banyak data, fakta dan pendapat kalangan pakar di Indonesia, maka kita harus melakukan revitalisasi masjid sebagai pusat peradaban Islam, sekaligus epicentrum dan “core point” dalam pemberantasan terorisme dan radikalisme, sebab dengan menjadikan masjid sebagai pusat perlawanan terorisme dengan cara-cara anti kekerasan dan penghormatan terhadap HAM, maka akan menimbulkan partisipasi masyarakat muslim semakin menguat dalam deradikalisasi.

 

Pelibatan pengurus masjid dalam memberantas dan mencegah terorisme sangat penting mengingat adanya informasi bahwa sepanjang Januari s.d Juni 2017, 161 orang atau 52 KK WNI dari 12 provinsi yang dideportasi dari Turki karena akan bergabung dengan ISIS telah kembali ke Indonesia.

 

Berdasarkan data LSM C-Save, provinsi dengan pengikut terbanyak adalah Jabar (13 KK), Jatim (10 KK), Jateng (8 KK), Lampung (5 KK), Jakarta dan Banten (4 KK), Sumbar, Jambi, Kalbar, Aceh, Batam dan Sumsel (1 KK). Jabar telah menjadi basis kelompok radikal  DI/TII atau NII. Dari Jabar, DI/TII dan NII menyebar ke Aceh, Sulsel dan Kalbar. Jateng dikenal basis JI dan JAT. Menurut Solahudin, dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia (UI), banyak aktivis radikal di Jateng, DIY, Jatim dan Sumut hasil rekrutan simpatisan Masyumi yang kecewa kebijakan politik Orba.

 

Revitalisasi Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam

 

Saat ini, hampir sangat sulit mendapatkan masjid yang difungsikan secara ideal menurut sunnah Rasulullah saw. Secara umum, menurut Kemenag tahun 2010, bila dicermati perkembangannya dewasa ini masih banyak pengurus masjid yang lebih memperhatikan kemegahan bangunannya. Inilah yang ditenggarai menjadi penyebab terhambatnya kemajuan Islam.

 

Melihat fenomena yang terjadi, maka perlu adanya tindakan konkrit untuk segera mengembalikan fungsi daripada masjid. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah inovatif sehingga masjid dengan fungsi strategis dapat menjadi pusat peradaban masyarakat diantaranya, Mengaktifkan Majlis Taklim yang ada Masjid untuk menghindari kejenuhan Jemaah; Mengadakan berbagai jenis pelatihan dan seminar sekaligus untuk menambah kemampuan pengurus masjid maupun Jemaah; Mengikutsertakan remaja-remaja Masjid sebagaiagent of change (agen perubahan) dengan beragam ide yang inovatif dalam mengembangkan kemakmuran Masjid; Menjadikan Masjid sebagai pusat ilmu dengan keberadaan perpustakaan masjid yang berisi tentang ilmu-ilmu Agama; Bersinergi dengan Pemerintah dan masyarakat dengan mengoptimalkan fungsi sosial masjid; Mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan TPA sebagai pendidikan karakter anak usia dini dengan fondasi ke-Islaman yang kuat. Seperti halnya yang diajarkan Rasulullah bahwa pendidikan dimulai dengan Aqidah sebagai fondasi, ibadah, akhlak, serta dilanjutkan dengan mu’ammalah.

 

Dengan upaya memakmurkan Masjid dan mengembalikan fungsi Masjid sebagai pusat kebudayaan Islam, maka niscaya upaya kelompok-kelompok radikal yang memanfaatkan Masjid menjadi tempat persemaian ide-ide menyerukan kebencian terhadap rezim Pemerintah dan bahkan sebagai Markaz konsolidasi teror tidak akan bisa terjadi, karena sudah terbangunnya kesadaran masyarakat akan fungsi Masjid yang sebenarnya. Islam mengajarkan kita untuk cinta damai karena Islam agama Rahmatan Lil Alamin.(*)